Penjual Cotton bud

Penjual Cotton bud

Ini merupakan salah satu tulisan yang terdaat dalam salah satu buku yang telah saya tulis selama pandemi. Masih bercerita tentang outbound tetapi dari sudut yang lain. Dalam kegiatan outbound ada salah satu aktivitas yaitu melakukan refleksi diri. Tulisan ini mungkin pembaca bisa melakukannya setelah membaca hingga selesai tulisan ini. Selamat membaca

Bersaing dengan penjual masker saat ini jelas dia akan kalah. Apalagi dengan penjual APD. Anak kecil itu juga tidak tertarik untuk menjual tisu di lampu merah. Sudah terlalu banyak juga pedagangnya.

“Ngamen ?”

“ oh Suara saya jelek mas, kalau saya bernyanyi semua orang bukan hanya akan tutup telingga tetapi akan tutup telinggan dan tutup mata” jawabnya sambil tertawa.

“Bagaimana kalau menjadi peminta –minta ?”

dia tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap langit. Sambil menggerakkan kakinya di tanah. Entah dia sedang menggambar apa dengan kakinya itu. Lalu dia menjawab dengan mengelengkan kepala. Tanpa menjawab satu patah kata pun. Tanpa penjelasan. Tanpa keterangan.

Langit siang itu sedikit mendung. Lumayan teduh jadinya. Lumayan jadi tidak terlalu haus. Anak kecil itu masih memegang tas yang berisi barang dagangannya. Tas itu lumayan masih cerah warnanya. Berwarna kuning seperti warna sebuah partai terbesar di negeri ini dulu. Tas itu tidak polos tetapi ada sablonnya. Kalau tida salah tertulis sebuah produk minuman yang kurang begitu dikenal di negeri ini. nggak tahu dia dapat tas itu dari mana. Lalu tangan satunya memegang satu pak barang dagangan yang ia jual. Cotton bud. “pembersih telingga” kata anak kecil itu. Satu pack nya dia jual 5000 rupiah.

“Lumayan mas, satu pack saya bisa ambil untung 1000” jawabnya sambil matanya melihat ku sambil tersenyum.

Siang itu dia bercerita tentang banyak hal. Tentang sekolahnya yang tidak selesai. Tentang keinginan untuk bisa sekolah lagi tetapi masih tetap bisa berjualan pembersih telingga itu. Tentang keinginannya untuk bisa membantu tetangganya yang lebih miskin dari dia. Tentang keinginannya untuk bisa naik ke tugu monas.

“ Itu emas beneran ya mas ? “ tanya nya kepadaku.

Lalu ia juga bercerita tentang keinginannya untuk masuk jadi tentara dan berharap bisa di tugaskan di daerah perbatasan negeri ini.

“ Ingin bertemu presiden nggak ?” dia tidak menjawab. Dia malah tertawa.

“ Nggak mas, saya bertemu sama mas ini saja, saya malah lebih suka “ “Lho, kenapa ?”

“ Mas itu lho kok mau ngobrol sama saya, pedagang kecil yang nggak jelas ini “ jawab dia sambil tertawa.

“ Yang saya butuhkan hanya teman duduk dan berbicara “

lalu dia terhenti sebentar dan melanjutkan ucapannya

“ Paling tidak itu bisa sedikit membantu untuk melupakan rasa lapar saya mas “

“ Lha emang rasa lapar bisa dilupakan dengan obrolan seperti ini ? “ tayaku lagi

“ Kedekatan itu tidak hanya bisa melupakan rasa lapar mas tapi juga bisa membuat orang melupakan untuk berbuat jahat”.

Jawaban itu membuatku terbengong sesaat. Anak kecil ini siapa sebenarnya ? tadi pagi di sarapan apa ? belajar sosiologi dari mana ? Kedekatan itu bisa mengambil peran yang begitu besar dalam sebuah kehidupan. Jarak yang jauh antara orang tua dengan anak akan membuat anak tidak bisa berkembang dengan sempurna. Keluarga bisa rapuh dan runtuh. Pemimpin yang tidak dekat dengan rakyatnya akan membuat pemimpin itu tidak dianggap oleh rakyatnya. Pemimpin itu tidak dipercaya oleh rakyatnya.

Lalu apa makna kedekatan itu ? dan ternyata kedekatan itu bukan lewat media sosial apalagi lewat kamera. Kedekatan itu adalah berbicara dengan tanpa takut atau ketakutan. Kedekatan itu adalah meminta dan memberi dengan tanpa pamrih. Kedekatan itu adalah tersenyum dengan tanpa dipaksakan. Kedekatan itu adalah bisa tertawa bersama terhadap hal yang memang lucu bukan karena takut atau terpaksa.

“Dik, kenapa kamu memilih menjual cotton bud ? “ tanyaku kemudian anak itu dengan sedikit tersenyum lalu menjawab

” Nggak tahu mas” lalu dia menunjukkan satu pack cotton bud di depanku

“ Benda ini saya jual hanya berharap ada yang membeli dan yang membeli bisa merasa senang dengan barang ini mas” dia mencoba memberikan penjelasan kepadaku.

“ Lalu ?” tanyaku kemudian .

” Nggak ada lalu mas. Ya cukup itu saja mas.”

Aku mungkin terlalu jauh berfikir bahwa anak kecil itu ingin menyindir siapa saja yang punya telingga tetapi tidak bisa mendengar suara orang minta tolong karena kelaparan. Tidak bisa mendengar ketidakadilan. Tidak bisa mendengar telah terjadi kecurangan. Tidak bisa mendengar kemiskinan di mana-mana. Tidak bisa mendengar kecurangan dimana-mana. Tidak bisa mendengar ketamakan di mana-mana.

Anak kecil itu hanya ingin berjualan cotton bud hanya untuk menyambung hidupnya saja. Dan mungkin juga supaya bisa bertemu dan ngorol seru dengan orang seperti saya.

Angkot yang aku tunggu-tungu ternyata datang juga. Aku pamit tinggalkan anak itu . Dia tidak tahu saya sempat selipkan uang beberapa ribu di tas kuningnya . Dari kejauhan aku masih bisa melihat senyum anak kecil penjual cotton bud itu.