Belajar dari pengalaman

Belajar dari pengalaman

Kegagalan bukanlah kegagalan kecuali anda tidak pernah belajar darinya ( Dr Ronald Niednagel )

Outbound selain dikenal dengan kegiatan yang dilakukan di luar ruangan juga ada yang mengkaitkan dengan belajar dari pengalaman. Tetapi jargon belajar dari pengalaman itu sepertinya lebih sebagai “pelengkap” saja. karena dengan menggunakan jargon tersebut outbound bisa lebih menjadi sesuatu yang lebih “menarik”.

Bagaimana belajar dari pengalaman itu sebetulnya menjadi punya makna yang dalam. Paling tidak sebuah kesalahan itu cukup hanya terjadi sekali saja. Tidak berlang-ulang. Apabila seseorang melakukan keslahan yang berulang-ulang dan kesalahan itu sama maka sebetulnya itu indikasi bahwa orang tersebut tidak belajar dari pengalaman.

Di dalam outbound atau Experiential Learning itu diberikan sebuah cara bagaimana untuk bisa melakukan hal tersebut. Saya ambil contoh dengan menggunakan siklusnya David Kolb. Ada 4 hal yang terjadi dalam siklus tersebut. Pertama dikatakan dengan istilah Concrete experience . Jadi kita ada suatu aktivitas yang dilakukan. Sebetulnya aktivitasnya ini apa pun. memang ada sedikit tambahan yaitu aktifitas yang dilakukan dengan senang ( fun experience )

Setelah itu masuk tahap kedua yang diberi nama Reflective observation . Didalam aktivitas ini kita diminta untuk melakukan “melihat” kembali apa yang tadi sudah dilakukan. Mulai dari awal hingga akhir. Apa yang terjadi. Kenapa tadi melakukan hal tersebut. Kenapa tidak sebaiknya tadi menggunakan cara yang lain. Kenapa waktunya kurang. Kenapa hasilnya bisa bagus. kenapa ada yang tidak selesai. Banyak pertanyaan yang diajukan untuk menggali “apa yang sudah diulakukan tersebut”.

Dari situ lalu masuk ke tahapan ke 3 yaitu Abstract conceptualisation. Dimana kita membuat abstract atau kesimpulan dari hasil reflective tadi. Kesimpulan ini menjadi semacam dasar tindakan agar kalau terjadi kesalahan sebelumnya tidak terulang lagi. Supaya kalau sebelumnya berhasil bisa lebih meningkat lagi hasilnya. Jadi tida mungkin akan terjadi sebaliknya. Kesimpulan ini harus dipahami benar baik secara individu maupun secara kelompok.

Kemudian masuk tahap ke 4 yaitu Active experimentation . Dimana pada tahap ini yang muncul terkait dengan rencana tindakan nyata. Paling gampangnya sudah bisa mengisi daftar yang terdiri dari pertanyaan 5 W + 2 H ( why, what, where, when, who + hoh dan how much ( apabila muncul faktor biaya ). Selain itu juga target apa atau berapa yang akan dicapai ). Dengan cara seperti itu maka diharapkan tidak akan terjadi kesalahan yang berulang.

Ada satu hal yang menarik yang seringkali dilupakan teman-teman ketika melihat siklus. ini. Yaitu pad a kata siklus. sebuah siklus itu sifatnya continue. Jadi terus beruland dan “berputar”. Jadi ketika sampai di tahap ke 4. Maka hasil atau apa yang terjadi itu sebagai suatu awal yang baru lagi yang harus dilakukan. Seringkali kita melihat bahwa tahap ke 4 itu sebagai tahap akhir. Bukan. Itu bisa jadi menjadi tahap awal kembali.

Semoga sedikit penjelasan singkat ini bisa bermanfaat, prinsipnya seperti qoute di awal artikel ini bahwa kegagalan itu sebetulnya tidak ada asalkan kita selalu belajar. Kegagalan itu semacam suatu aktifitas yang hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Jadi masih bisa diupayakan lebih baik lagi.

Semoga kita juga bisa belajar banyak dari pandemi ini. Kita bisa melewatinya dengan baik. Kita tetap sehat dan terus semangat. mari kita selalu menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun.

Salam outbound. Salam simpEL