Outbound dan cerita “keindahan”

Outbound dan cerita “keindahan”

Cerita ini nyata. Saya ambilkan dalam salah satu tulisan di buku karya ke 3 saya yang berjudul Outbound dari titik nol. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi teman-teman pemabca setia.

FERRY

Ferry, saya biasa memanggilnya.  Anak Palembang asli.  Lulusan dari salah satu perguruan tinggi  negeri di kota Sungai Musi itu.  Ferry adalah salah satu orang yang sangat beruntung.  Sebelum menyelesaikan jenjang pendidikan D3-nya, dia sudah lolos tes dan sudah diterima oleh salah satu perusahaan kontraktor BUMN besar di negeri ini.  Tepatnya satu tahun sebelum akhir masa kuliahnya.  Dan sejak itu Ferry terhitung sudah mendapatkan gaji bulanan oleh perusahaan tersebut.  Tetapi gaji itu baru bisa diambil ketika Ferry sudah benar-benar lulus dan aktif bekerja.

Outbound Training yang kami berikan adalah semacam training pembekalan atau training orientasi untuk pegawai baru.  Model training ini bermacam-macam.  Ada yang dengan cara dimasukkan dalam sebuah barak militer dengan didik langsung oleh para Gumil ( guru militer ) sebuah satuan Angkatan bersenjata atau kepolisian.  Ada juga yang mengambil model gabungan antara pola training bagian diklat dan SDM  dengan pola militer.  Dan model-model yang lainnya.

Selama kurang lebih satu bulan Ferry dan teman-temanya mengikuti training orientasi tersebut.  Mereka mendapatkan berbagai materi pembekalan tentang segala hal yang berhubungan dengan perusahaan apa dan bagaimana perusahaan tersebut.  Mulai visi  dan misi, budaya perusahaan, keuangan dan akutansi, sistem manajemen dan lain lain.  Termasuk mereka juga mendapatkan pendididkan kedisiplinan dan outbound training.

Siang itu udara sangat cerah.  Awan tidak tampak sedikitpun di langit dan matahari bersinar dengan senyumnya yang menawan.  Saat kami sedang beristirahat.  Tiba-tiba datang sebuah mobil berwarna putih ke lokasi training kami di daerah Cibubur – Jakarta.  Salah seorang staff personalia dari perusahaan tersebut datang. 

Hari itu menurut informasi akan ada pembagian gaji selama satu tahun bagi para  peserta outbound training.  Hari itu adalah hari pertama sebagaian besar dari mereka akan merasakan nikmatnya menerima gaji pertama.  Dan tidak tanggung-tanggung mereka akan mendapatkan gaji bukan satu bulan atau tiga bulan melainkan gaji selama satu tahunya mereka.  Mereka memang di tahun terakhirnya kuliah sudah dinyatakan sebagai karyawan perusahaan tersebut tetapi gaji tersebut baru akan dibagikan sewaktu mereka mengikuti training orientasi.

 Tampak wajah-wajah ceria dan gembira dari mereka.  Ada yang tertawa-tawa kegirangan, ada yang senyum malu-malu, ada yang masih agak kelihatan tidak yakin dan percaya tetapi ada juga yang tampak matanya berkaca-kaca.  Belakangan saya tahu hal itu karena terharu karena akhirnya jerih payah orang tuanya dalam menyekolahkan dia sudah mulai menampakkan hasilnya.

Satu minggu setelah dibagikannya gaji rapelan satu tahun itu.  Kami ngobrol bersama beberapa peserta training. Mereka bercerita tentang segala macam.  Tetapi topik yang menarik dibicarakan adalah bagaimana mereka membelanjakan gaji pertama tersebut. Mereka bercerita sangat semangat dan heboh.  Beberapa diantara mereka bahkan sangat antusias sekali menceritakan pengalamanya menggunakan uang gaji pertamanya tersebut.

Diantara mereka ada yang langsung memborong baju dan celana kantor. “ saya belum punya mas, jadi saya belikan baju dan celana untuk ke kantor saja mas.  Saya beli langsung 4 stel celana dan baju kantor mas” kata salah seorang diatara mereka dengan penuh semangat. “ kalau saya buat mentraktir teman dan sahabat saya mas. Saya kebetulan pernah janji mau membelikan sate kambing kepada mereka mas.” “ kalau saya, saya tabung semua”, “ kalau saya, buat membelikan ponakan sepeda baru” “ kalau saya buat nraktir makan sama pacar saya mas.”  Sore itu kami semua saling berbagi cerita tentang rasanya membelanjankan gaji pertama. Bisa dibayangkan bagaimana mereka dengan antusiasnya bercerita.  Bagi sebagaian besar orang, gaji pertama adalah sakral dan memiliki makna berarti.  Bukan masalah besar atau kecilnya tetapi arti penerimaan hasil jerih payah sekolah dan kuliah seakan-akan terbayar sudah.

Ferry sore itu juga ikut bergabung dalam obrolan tersebut.  Dihadapan kami dan teman-temannya dia bercerita agak berbeda dengan yang lain.  Dia mengatakan bahwa gaji pertamanya kemarin sudah habis hari itu juga. Tidak bersisa sedikitpun. Jadi cuma satu hari alias 24 jam gaji Ferry selama satu tahun itu habis. Kami semua bertanya-tanya buat apa ? kami semua mengira Ferry boros.  Kami semua menduga Ferry seperti orang yang sedang lupa diri.  Beberapa orang memang ada yang punya sifat kalau sudah memegang uang tidak bisa lama-lama.  Keinginan untuk membelanjakan uang tersebut selalu muncul dan begitu perkasa.  Apalagi dengan semakin gencar berbagai media promosi yang mengeluarkan jurus maut rayuannya.  Banyak yang tergoda karenanya.

  “ ya, uang itu sudah saya habiskan karena saya sudah janji kepada diriku sendiri.  Uang itu aku belikan cincin emas untuk ibuku.” kata Fery dengan nada yang sedikit pelan.  Mungkin dia kembali teringat dengan ibunya setelah mengatakan kalimat itu.  Sepertinya kalimat yang baru saja diucapkan seperti menghentak hatinya.  Kalimat itu begitu terasa kuat hingga Ferry beberapa saat terdiam dan menunduk. Kami semua juga terdiam.  Mulut kami seperti diberi sebuah lem yang kuat hingga untuk beberapa saat kami tidak mampu berkata sepatah kata pun.  Kami bengong sebengong-bengongnya.  Tidak percaya mendengar penuturan Fery tentang bagaimana dia menghabiskan uang satu tahun gajinya..  ” dan saat ini ibu saya sudah memakai cincin itu” lanjut Fery dengan senyum kecilnya untuk menutupi matanya yang sudah sedikit basah.

Ferry memang terlahir dari keluarga yang kurang mampu, tetapi dengan tekad yang kuat untuk keluar dari ketidak mampuan itu maka dia sangat rajin belajar dan meningkatkan kemampuannya.  Keinginannya cuma satu yaitu ingin membahagiakan ibunya di kampung.  Ayahnya Ferry sudah meningal ketika Ferry kelas 3 SMP sehingga sejak saat itu hanya ibunya saja yang berjuang membiayai sekolah Ferry.  Suatu hari ketika sedang membutuhkan uang sekolah.  Karena uang sekolah itu lumayan besar dan Ibunya sudah tidak punya tabungan lagi maka Ibunya dengan sangat berat hati menjual satu satunya harta kebanggaannya yaitu cincin pernikahannya.  Ferry saat itu sebetulnya ingin melarangnya tetapi sang ibu tetap ingin menjualnya demi sekolah Ferry.  “ tidak apa apa nak yang penting kamu tetap bisa sekolah.  Ibu ikhlas dan pasti Bapakmu di alam sana juga ikhlas kok nak”. Kata-kata ibunya tersebut begitu membekas dalam ingatan Ferry. Jerih payah dan pengorbanan ibunya yang begitu besar membuat Fery ingin segera menyelesaikan sekolahnya dan bekerja. Hampir setiap hari keinginan untuk segera membelikan ibunya sebuah cincin hadir dalam dirinya.  Tekadnya untuk berhasil dalam belajar dan segera mendapatkan pekerjaan membuat Fery menjadi lebih meyala-nyala. Dan akhirnya pada hari itu setelah perjuangan yang tidak mengenal putus asa Ferry mampu mewujudkan tekadnya..

Kami semua yang sore itu duduk dan ngobrol bersama Ferry merasa bangga mempunyai peserta training dan teman seperti Ferry.  Walaupun masih muda tetapi pikirannya tidak egois dan sudah memiliki tanggung jawab kepada keluarga.  Terkadang kita begitu lupa dan egois terhadap pencapaian karir atau jabatan bahkan kesuksesan yang kita dapat raih saat ini.  Kita begitu mudah melupakan jasa orang tua kita.  Melupakan sahabat, kerabat dan orang-orang yang membantu kita dalam mencapai kehidupan kita saat ini.  Rasa sombong, egois dan lupa diri terkadang muncul dengan tanpa sadar ketika kita mengucapkan kalimat “ saya sedang sibuk” “ wah lain kali saja ya saya hubungi” “ saya sedang banyak urusan kantor” “ saya sedang meeting” “ saya sedang ketemu tamu penting”.  Kesibukan mengejar karir atau jabatan akhirnya menjadi semacam alasan untuk melupakan jasa baik dari orang-orang disekitar kita.  Sayang.

Cerita Fery mudah-mudahan dapat mengingatkan kita semua untuk dapat lebih meningkatkan bakti kepada orang tua kita.  Terutama ibu kita.

Semoga kita tetap sehat dan terus semangat. Mari kita selalu ikuti protokol kesehatan. Memakai masker. Menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun.

Salam outbound. Salam simpEL ( Seamngat Ingin Mempelajari Experiential Learning )