Outbound itu juga sebuah pilihan

Outbound itu juga sebuah pilihan

Kembali saya angkat satu cerita yang ada di buku saya yg berjudul “outbound dari titik nol”. Kali ini saya ambilkan dari pengalaman salah seorang teman saya . Dia seorang dokter yang kebetulan sering membantu di dalam kegiatan outbound. Cerita ini juga saya persembahkan kepada para dokter dan tenaga kesehatan yang saat ini sedang “mengabdi” untuk kemanusiaan. membantu dan merawat pasien Covid-19. Semoga tetap sehat dan tetap semangat.

DOKTER ARIS.

Tiba-tiba saja semuanya terdiam.  Bumi seakan berhenti berputar.  Angin membisu seribu bahasa.  Cahaya pun sepertinya juga terhenti ketika salah seorang peserta outbound training terjatuh dari ketinggian sekitar 8 meter sesaat mau melakukan flying fox.   Suara teriakan “a.a………..a” hari itu seakan-akan merupakan teriakan yang paling menakutkan dan memilukan.

Kejadian tersebut dalam dunia outbound training sebetulnya adalah haram hukumnya. Alias tidak boleh terjadi.  Apabila hal itu terjadi dan media masa memberitakannya maka tamatlah sudah provider outbound training tersebut.  Selain itu image outbound training jadi ternoda.  Paling tidak oleh perusahaan yang mengalami karyawannya cidera pada saat melakukan kegiatan outbond training tersebut.

Kenapa dan mengapa hal itu bisa terjadi ? dari beberapa kejadian yang pernah penulis dapatkan informasinya penyebab utamanya adalah karena faktor kurang konsentrasi.  Ada sebuah provider retail outbound yang dalam satu hari bisa melayani kurang lebih  200 hingga  2.000 orang yang akan melakukan flying fox dan hanya di-handel oleh seorang stoper.  Bisa dibayangkan bagaimana dia bisa konsentrasi dalam melakukan pekerjaannya kalau untuk sedikit mengisi “perut’ dengan makanan saja tidak ada waktu.  Bahkan untuk kencing saja tidak bisa. 

Selain masalah faktor tersebut ada juga faktor lain yang tidak kalah serunya yaitu tidak bisanya stoper atau yang lebih luas lagi petugas lapangan ( logistic and tecnical support ) memanage waktu.  Ketika waktunya istirahat malah tidak dipakai untuk istirahat.  Tidurnya kurang dan besok paginya badan rasanya pasti kurang fit.  Tetapi hal itu juga bukan semata-mata kesalahan dia karena seringkali para pimpinan atau pemilik provider outbound training tersebut memberikan beban tugas yang ngaco alias ngawur.  Memberikan tugas yang sifatnya mendadak dan memberikannya dengan gaya boss besar.  Bahkan ada yang bergaya seperti seorang tiran.  Hiiiiii

Faktor yang lain adalah kurangnya persiapan.  Merasa kegiatan tersebut adalah sudah sering dilakukan sehingga mengabaikan aktivitas persiapan tersebut.  Persiapan untuk kegiatan outbound dengan resiko tinggi semacam flying fox tersebut tidak bisa dilakukan dengan secara acak-acakan.  Penyimpanan alat yang amburadul, personil yang tidak menguasai alat, peralatan yang tidak pernah di check masa pakainya adalah hal-hal yang sering kali dilupakan.

Kembali kecerita di atas.  Peserta outbound training tersebut mengerang kesakitan sambil memegang salah satu kakinya.  Teriakannya menahan sakitnya sore itu seperti bunyi halilintar.  Keras dan melengking.

 Semua orang disekitar lokasi flying fox itu sempat terdiam beberapa saat.  Kemudian beberapa diantara mereka dengan tidak sabar dan setengah panik berlari menuju sumber teriakan tersebut.  Tetapi sebelum semua orang sampai ditempat itu dokter Aris, dokter yang bertanggung jawab dalam outbound training tersebut sudah datang duluan.  Dengan pengalaman yang lumayan lama dalam mengikuti outbound training dokter Aris langsung meminta semua peserta untuk berkumpul di kelas ” Ok, Bapak dan ibu sekalian.  Kami minta untuk mengikuti instruktur berkumpul di kelas.  Ini adalah bagian saya.  Percayalah” kata dokter Aris dengan bahasa yang santun tapi tegas.  Bisa dibayangkan dalam kondisi seperti itu banyak peserta yang ingin tahu dan mencoba menolong.  Tetapi kalau untuk kecelakaan seperti itu apabila salah sedikit saja dalam menanganinya akibatnya bisa fatal.  Selain itu biasanya akan terjadi kepanikan dan kemarahan dari peserta outbound training, terutama yang merangkap sebagai observer dari pihak peserta.  Mereka biasanya langsung marah-marah kepada provider.  Akibatnya korban malah tidak segera ditangani.

Dokter Aris langsung bertindak cepat untuk menyelamatkan korban.  Setelah itu dia minta bantuan dua orang petugas lapangan untuk mengambil tandu yang memang sudah selalu stand by di salah satu ruangan di base camp profider tersebut.  Dokter Aris melihat luka dari korban sepertinya cukup parah.  Tulang paha kanannya sepertinya patah.  Untuk menghindari hal-hal yang lebih parah lagi, doketr Aris melakukan beberapa tindakan pencegahan yang membuat korban terselamatkan dan tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. 

Hujan rintik-rintik sore itu sepertinya sedang menyanyikan lagu sendu.  Suara aliran sungai kecil yang mengalir disekitar base camp sepertinya juga bernada sedih.  Sore itu memang seluruh peserta dan panitia outbound training agak sedikit terguncang.  Tapi semuanya berdoa agar rekannya yang mengalami musibah dapat selamat dan berkumpul bersama lagi.

Setelah melewati medan yang lumayan sulit dan licin karena hujan, korban akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat dengan menggunakan mobil ambulan yang sudah disiapkan oleh profider.  Dan alhamdulillah korban langsung ditangani oleh dokter tim dokter rumah sakit.  Setelah sekitar satu jam kondisi korban sudah mulai stabil. Dokter Aris dengan setia menemani korban dan selalu memonitor perkembangannya.

Dengan ketrampilan dan kecepatan penanganan korban oleh dokter Aris akhirnya korban dapat terselamatkan dan langsung mendapatkan perawatan yang terbaik. 

Kurang lebih 5 bulan kemudian korban sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Ada sedikit perasaan senang, sedih dan bersyukur melihat perkembangan kondisi korban. Jiwanya masih dapat diselamatkan tetapi untuk sementara waktu karena alasan medis korban harus mulai membiasakan berjalan dengan satu tongkat penyangga tubuhnya. “ wah, kaki saya jadi tiga ya mas dok sekarang” canda korban ketika keluar dari rumah sakit.  Ucapan ringan itu membuat dokter Aris semacam baru mendapat berkah. 

Dokter Aris ketika mengantarkan korban kembali ke rumah sempat melihat ketegaran dari korban. Ya, semuanya sudah terjadi. Tetapi yang lebih penting lagi hal itu tidak boleh terulang kembali.  Kejadian semacam itu sebetulnya tidak perlu terjadi apabila semua orang yang terlibat di lapangan konsentrasi dalam menjalankan tugasnya.  Selain itu manajemen lapangan khususnya dan juga manajemen perusahaan provider outbound training pada umumnya haruslah benar-benar berkualitas.  Jangan manajemen ecek-ecek.  Maunya untungnya saja.  Untung dalam dunia bisnis memang harus, tetapi jangan serakah.

Setelah 7 bulan lewat dari peristiwa naas itu.  Dokter Aris sore itu sedang duduk di bawah pohon tempat jatuhnya korban.  Air matanya tak kuasa membahasi pipinya.  Dia bersyukur sekali kepada Tuhan,  bahwa apa yang dipelajari selama di bangku kuliah dapat bermanfaat bagi orang lain.  Dia teringat akan pesan dari ibunya ketika diterima di salah satu fakultas kedokteran perguruan tinggi ternama di Jakarta.  ” jadilah dokter yang baik nak.  Bantu dan tolonglah orang lain yang bisa kamu tolong”.  Bagi doketr Aris pilihan untuk membantu dunia outbound bukanlah pilihan yang sulit.  Dunia outbound adalah sisi lain yang merupakan dunia yang ia sukai semasa mahasiswa dulu. Dunia yang mengantarkannya untuk kembali dapat bercengkerama dengan alam.  Apalagi setelah mengetahui lebih jauh bahwa dunia outbound merupakan dunia yang dapat dijadikan sarana  untuk mengembangkan manusia menjadi manusia yang lebih baik.  Setelah kejadian tersebut, dokter Aris semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah.  Pilihannya tidak keliru.

Semoga cerita di atas bisa bermanfaat dan bisa menginspirasi kita semua. Mari sama-sama kita patuhi protokol kesehatan. Memakai masker. menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun.

Salam outbound . salam simpEL ( Semangat ingin mempelajari Experiential learning )