Belajar naik sepeda ala outbound

Belajar naik sepeda ala outbound

Teman-teman coba ingat -ingat sejenak kapan pertama kali belajar naik sepeda ? bagaimana sudah ingat ? pasti hampir semuanya merasakan awalnya susah. Mulai dari mengatur keseimbangan. Memadukan antara gerakan kaki dan pegangan stang sepeda hingga berapa kali jatuh. Ada satu tulisan yang terkait hal tersebut di buku ke 4 saya yang berjudul Experiential Learning lebih seru daripada outbound. Saya share tulisan ini dalam web ini ya. Semoga bermanfaat.

Coba ingat dulu waktu per-tama kali bisa naik sepeda.  Mungkin 3 tahun yang lalu atau mungkin 30 tahun yang lalu. Sudah ingat? coba seka-rang bayangkan kalau anda belajar naik sepeda dengan cara membaca buku “Cara jitu belajar naik sepeda” atau membaca buku yang lain yang judulnya “Belajar naik sepeda dalam waktu 1 jam. Dijamin”. Kemudian anda membacanya dengan sangat serius. Saking seriusnya anda sampai inget dimana letak titik koma dari buku tersebut.

Buku itu dicetak dengan sampul berwarna cerah. Dengan hard cover yang menawan. Lalu isi di dalamnya selain penjelasan yang detail juga disertai dengan berbagai gambar dan ilustrasi yang indah. Ada gambar tentang bagaimana cara memegang sepeda. Lalu gambar tentang letak kaki yang pas ketika di pedal. Yang lebih hebat lagi adalah penjelasan tentang bagaimana mengatur keseimbangan ketika bersepeda. Ada penjelasan yang sangat akademis hingga sampai diukur berapa besar sudut keseimbangan antara bagian tubuh kiri dan kanan.

Dan supaya pengetahuan anda lebih luas lagi maka di awal-awal bab buku tersebut diceritakan tentang sejarah dan asal usul sepeda. Mulai jaman pra sejarah ketika manusia pertama kali mengenal roda.  Lalu ketika jaman Yunani dan Mesir kuno hingga penjelasan yang mempesona ketika jaman Romawi.  Kemudian di tutup dengan perkembangan sepeda di era saat ini. Tentang bahan apa yang di pakai hingga berapa harga sepeda paling mahal di dunia.

Kemudian juga tidak kalah menariknya ditampilkan berbagai aneka sepeda saat ini dengan latar belakang yang berbeda-beda. Sepeda dengan latar belakang pegunungan yang indah. Sepeda dengan disekelilingnya salju putih dimana-mana. Sepeda yang dipakai oleh bapak-bapak ojek sepeda.  Sepeda yang sedang di-naiki oleh beberapa Presiden terkenal dunia. Oleh para selebrities hingga oleh para pedagang daerah sekitar Jogja yang mau pergi ke berbagai pasar di kota Jogja.

Ketika anda selesai membacanya dan tibalah saat ujian.  Dan ternyata nilai hasil ujian anda adalah 100. Alias yang paling tinggi. Bapak atau Ibu guru anda tersenyum bahagia dan bangga. Ketika anda pulang ke rumah dan menunjukkan hasil ulangan tersebut kepada orang tua anda, mereka pun juga senang dan bangga. Luar biasa.

Tetapi ada satu hal yang terlupa. Walaupun nilai ujian anda 100 untuk “mata pelajaran“ bersepeda, tetapi ternyata Anda belum bisa naik sepeda yang sebenarnya.  Ketika diminta untuk menun-tun sepeda saja anda grogi dan ketika anda mencoba untuk menaikinya anda terjatuh. Dan setelah itu anda menyerah untuk belajar naik sepeda.  Anda merasa sudah cukup bangga dengan nilai ujian yang 100 tadi.

Pasti akan lain ceritanya ketika anda diminta untuk belajar sepeda dengan langsung diberikan sepeda. Awalnya dipegangi dari belakang oleh teman anda.  Lalu anda merasakan jatuh berkali-kali karena belum bisa menjaga keseimbangan. Kemudian  dengan kegigihan dan keuletan, anda akhirnya mulai tahu bagaimana menyeimbangkan badan. Bagaimana memegang stang sepeda yang benar dan bagaimana mengayuh pedal secara bergantian. Dan akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Anda sudah bisa naik sepeda. Anda setiap sore naik sepeda untuk mening-katkan kemampuan. Anda dengan semangat mau membelikan apa saja di warung yang diperintah oleh ibu anda. Anda tertawa dan bahagia walaupun sambil melihat bekas luka-luka yang ada di tangan dan kaki anda akibat terjatuh dari sepeda sewaktu latihan tersebut.

Ketika kemudian saya tanya apakah anda saat ini senang? anda menjawabnya dengan “senang sekali”. Kenapa akhirnya anda mau belajar sepeda walaupun anda harus jatuh dan luka? apakah yang membuat Anda bersemangat untuk bisa mengendarai sepeda? apakah hanya modal keseimbangan setiap orang agar bisa naik sepeda? apakah keseimbangan dalam hidup itu juga hampir sama dengan keseimbangan ketika belajar naik sepeda?

Gambaran methode pembelajaran yang ke dua sebenarnya adalah gambaran “sepintas” tentang methode pembelajaran EL. Mung-kin dalam teorinya banyak istilah-istilah yang “unik” dan beberapa ada yang belum paham. Tetapi dengan gambaran belajar naik sepeda di atas bisa membantu menjelaskannya bagaimana “menarik-nya” methode EL tersebut.

Jadi belajar tidak hanya berhenti pada teori saja.  Tetapi praktek dan merasakan yang sebenarnya.  Mengalami langsung sehingga bisa merasakan “jatuh dan bangunnya”.  Belajar yang tidak hanya berorientasi pada tujuan saja tetapi juga menikmati prosesnya.

Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi teman-teman.

Mengingatkan kembali kepada kita semua mari kita tetap patuhi protokol kesehatan. Dengan memakai masker. menjaga jarak dan mencuci tangan pakai sabun. Semoga kita sehat selalu dan terus semangat untuk berkarya.

Salam outbound. Salam simpEL ( Semangat ikut mempelajari Experiential Learning )