Menjadi Seorang Storyteller

Menjadi Seorang Storyteller

Setiap orang sebetulnya bisa menjadi storyteller, atau pencerita. Kenapa karena setiap orang pasti punya “cerita” tentang dirinya sendiri. Setiap orang punya cerita unik yang pasti berbeda dengan orang lain. Dan cerita itu pasti bisa dibuat dan diceritakan dengan menarik.

Pengalaman mendengarkan cerita setiap manusia biasanya didapatkan dari orang tuanya. Mungkin bahasa yang lebih familiar adalah kita pernah mendengarkan dongeng dari orang tua kita. Dongeng yang paling hitz di Indonesia ( jaman dulu ) adalah tentang serial kancil. Kancil mungkin menjadi nama hewan yang paling familiar diantara naka-anak Indoneisia. Walaupun mungkin sebagian besar mereka belum melihat binatang kancil secara langsung.

Bercerita itu susah-susah mudah. Bercerita kalau dengan spontan tentang yang kita alamai kepada seorang sahabat atau kawan dekat sepertinya akan mengalir begitu saja. Dan disela-sela cerita itu pun ada semacam tanya jawab mengenai “pendalaman” dari cerita itu. Tetapi bercerita kepada orang lain dengan menceritakan bukan pengalaman kita sendiri mungkin agak berbeda. Sedikit lebih sulit pastinya.

Dari awal menekuni bidang outbound saya langsung tertarik dengan teknik bercerita dari “Bapak” saya. Yang saya maksudkan disini adalah pimpinan di perusahaan saya. Beliau setiap kali bercerita sangat menyenangkan sekali. Apalagi ketika di “sertakan” emosinya. Orang yang mendengarkan bisa tertawa pada suatu saat. Dan pada saat lain bisa sedih dan menangis. Suaranya dan teknik menceritakannya sangat menarik.

Cerita pertama yang saya sampaikan kepada teman-teman di perusahaan tersebut waktu itu adalah tentang Sun Tzu. Tokoh strategi perang terkenal Tiongkok. Bagaimana dia diberikan tugas oleh rajanya untuk mendisiplinkan para selir-nya. Saya senang ketika menceritakannya dan alhamdulillah cerita itu membuat teman-teman jadi suka dengan gaya saya bercerita.

Hingga hari ini setiap kali saya mengajar soffskill selalu saya bawa minimal satu cerita. Banyak sekali sumber cerita di sekitar kita. Apalagi saat ini kita bisa mencari sumber cerita dengan lebih mudah di internet. Cerita metafora adalah cerita kesukaan saya. Bagaimana seseorang bisa menjadi lebih mudah memahami sesuatu dengan metafora tersebut. Contoh bagaimana menerangkan tentang sesuatu yang sifatnya nyaman atau tidak nyaman. apakah itu dalam situasi bekerja atau masalah pribadi. Saya membuat metafora dengan sebuah sepatu. Bagaimana kalau kita memakai sepatu dengan ukuran yang pas di kaki kita. maka akan terasa nyaman ketika untuk buat berjalan bahkan untuk berlari. Nha kalau sepatu itu tidak sesuai dengan ukuran kaki kita maka akan emmbuat kita tidak merasa nyaman.

Itulah teknik metafora yang paling saya suka. Selain itu cerita tentang seorang tokoh dan cerita anekdot saya juga suka. Salah satu tokoh pencerita yang saya suka adalah Nasrudin Hoja. Kalau teman-teman ingin tahu silakan cari cerita-cerita yang pernah ditulis oleh beliau.

Selama saya berkecimpung di dunia outbound banyak hal yang bisa saya ceritakan dan saya bagi cerita itu kepada teman-teman. Bagaimana memahami siklus Kolb. Bagaimana menceritakan tentang teknik debriefing. Bagaimana menggambarkan tentang generasi fasilitasi. Semua dengan mudah diceritakan dan dengan mudah dipahami oleh teman-teman.

Ya, Saat ini saya akan mulai kembali fokus untuk menjadi seorang storyteller ( lagi ). Dunia pencerita itu sepertinya sudah lama saya tinggalkan. Semoga kedepan bisa mulai saya tekuni kembali dengan lebih serius dan bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Semoga artikel ini bermanfaat. Semoga kita semua tetap sehat dan terus semangat. OK, kembali saya mengingatkan untuk mari kita senantiasa menerapkan protokol kesehatan. memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan air yang mengalir.

Salam outbound. Salam simpEL.