7 hal pelajaran selama pandemi ( terkait dengan outbound )

7 hal pelajaran selama pandemi ( terkait dengan outbound )

Pandemi saat ini masih berlangsung. Sudah masuk tahun ke dua. Banyak sekali dampaknya. Di semua sektor termasuk dalam bidang outbound khususnya. Bisnis pariwisata pada umumnya. Tetapi semua sektor terkena dampaknya. Efek kesehatan dan efek ekonomi akhirnya bisa “menyentuh” sektor yang lain.

Dunia sepertinya terasa berubah. Jarak menjadi semakin “jauh”. Kesadaran akan kesehatan “semoga” semakin meningkat. Pergerakan sedikit terbatas. Begitu juga dunia outbound juga ikut berubah. Perubahan itu harusnya bisa disikapi dengan bijak. Belajar dari pengalaman adalah kuncinya. Walaupun pandemi masih berlangsung tetapi kita bisa belajar dari pandemi ini. Terutama bagaimana kita bisa mengambil pelajaran di dalamnya.

Ada 7 hal paling tidak yang mungkin kita bisa ambil pelajaran dari pandemi ini terkait dengan dunia outbound.

  1. Selalu berfikir antisipasi. Mungkin karena terlalu percaya diri dan belum pernah terjadi sebelumya sehingga begitu pandemi sebagian besar teman-teman provider dan fasilitator outbound seperti kaget. Sepertinya kegiatan dan aktivitas tetap berjalan normal. Ternyata……..Kedepan alangkah baiknya kita selalu berfikir dan menyiapkan “plan B” atau langkah antisipasi.
  2. Jangan terlalu percaya diri. Apalagi percaya diri yang berlebihan. Pandemi ketika awal banyak yang memperkirakan paling lama akan berlangsung 3 bulan. Begitu masuk bulan ke 4 dan seterusnya ternyata bisa meruntuhkan “rasa percaya diri” tersebut. Percaya diri boleh tetapi jangan berlebihan.
  3. Belajar dari yang sering kita katakan. Dalam dunia outbound ada beberapa kata atau kalimat yang seperti menjadi sebuah “ke-khas-an”. Misalnya kata LUAR BIASA. Kata ini hampir setiap kali bertebaran pada saat kegiatan outbound. Luar biasa pastinya beda sekali dengan makna biasa atau biasa-biasa saja. Pertanyaannya bisakah saat ini kita, terutama provider dan fasilitator outbound bersikap luar biasa dalam mengahadapi pandemi ini. Bersikap luar biasa adalah tetap tenang. Berfikir lebih panjang dan yakin akan bisa melalui pandemi ini. Bisa ? semoga kita semua bisa melakukannya dan hal itu merupakan hal yang luar biasa
  4. Jangan menyepelekan sesuatu yang kecil. Ini sebetulnya prinsip dari respek. Kadang kita hanya menghargai sesuatu yang besar atau yang bernilai besar saja. sedangkan yang kecil sering kali diabaikan. Pandemi ini adalah karena sesuatu yang “sangat kecil”. diawal kita mengabaikannya. Bahkan negara kita juga melakukannya. Belajar dari hal itu ada baiknya kita selalu bisa lebih bijak dalam memperlakukan sesuatu. Lebih menghargainya. Termasuk klien kita. Apakah itu klien besar atau kecil. Juga termasuk patner atau kawan kita. Kita belajar untuk bisa saling menghargai. Jangan meremehkannya.
  5. Pentingnya hadirnya teman. Menghadapi pandemi seperti sekarang ini bisa menjadikan kita semakin “kiesepian”. Jarak semakin jauh sehingga ada sebagian kita yang merasa semakin “tersudut”. Kehadiran teman ternyata bisa sedikit meringgankan beban pikiran kita. Dulu ada sebagain diantara kita yang merasa dirinya “exclusive”. Hanya teman teman yang “selevel” yang selalu kerja sama. Ternyata saat ini mungkin ada teman tersebut malah menjauh dan justru teman yang dulu kita anggap biasa saja malah bisa memberikan perhatian kepada kita. Bahkan seseorang yang tidak kenal bisa jadi malah yang “menolong” dan membantu kita mengahadapi pandemi ini.
  6. Pentingnya menahan diri. Dalam kondisi yang sedang “kekurangan” seperti ini ada baiknya kita bisa menahan diri untuk menampilkan kehidupan yang berlebih.. Dulu mungkin kita sering mengambil gambar setiap makanan yang kita ingin makan lalu menyebarkannya. ada baiknya sekarang ditahan dulu. Sebarkan hal – hal yang mengajak untuk mengingatkan atau berbuat baik. Misalnya mengajak untuk mulai rajin berolah raga agar tubuh menjadi lebih sehat. Mengajak untuk berdiskusi tentang peluang yang mungkin bisa dilakukan selama pandemi agar bisa survive. Mengajak untuk berkata atau membuat status yang baik. Tidak memprovokasi atau menakut-nakuti. Jadi saatnya untuk menahan diri dan mengajak kebaikan.
  7. Menabung. Ini sepertinya hal yang sederhana. Dulu ketika kegiatan outbound yang banyak dan bisa menghasilkan jumlah finansial yang banyak dan terus menerus sepertinya ada yang terjebak untuk membeli barang -barang secara berlebihan. Satu barang bisa jumlahnya sangat banyak. Pengeluaran sepertinya tidak terkendali untuk barang-barag yang sifatnya konsumtif. Begitu pandemi dan berlangsung lama ternyata barang-barang tersebut malah “merepotkan” . Lalu ada yang di jual dengan harga yang jatuh. Ada baiknya kedepan kita mulai membiasakan menabung dengan lebih bijak. Mungkin tidak hanya uang. Bisa menabung emas. Nabung tanah atau properti. Atau membuka usaha lain yang sifatnya produktif.

7 ha l yang bisa dijadikan pelajaran di atas adalah pendapat saya pribadi. Mungkin ada pendapat yang lain dari teman-teman silakan saja. Saya berharap hal di atas bisa kita jadikan bahan renungan dan bisa membuat kita lebih kuat dalam menghadapi pandemi ini dan kita bersama sama bisa kembali bangkit untuk membangun masa depan bersama. Khususnya untuk membangun dunia dan masyarakat outbound ( Experiential Learning ) ke depan yang lebih kuat dan lebih luar biasa.;

Apabila artikel ini ada manfaatnya silakan teman-teman luangkan waktu sebentar untuk bisa membagikan link dari artikel ini ke siapa saja. baik ke teman -teman provider, fasilitator outbound atau ke teman atau saudara yang membutuhkannya.

Tetap sehat dan terus berkarya. Dan tetap kita ikuti protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan air mengalir.

Salam outbound. Salam simpEL