3 teori modern tentang game

3 teori modern tentang game

Kalau artikel kemaren telah membahas tentang teori klasik kenapa manusia butuh bermain. Artikel kali ini membahas tentang teori modernnya. Ini bukan berarti teori klasik itu sudah jadul atau sudah kuno ya. Maksudnya pembedaan ini adalah sesuai dengan perkembangan jamannya. Jadi ini menunjukkan bahwa ilmu itu berkembang terus.

Kita bisa ambil pelajaran tenang hal ini bahwa kalau kita menekuni sesuatu sebaiknya jangan jalan di tempat. Terus meng-update informasi . Memahaminya . Siapa tahu suatu hari juga bisa memberikan sebuah pendapat “baru: yang bisa memperkaya tentang hal tersebut.

Ok kita masuk ke teori modern ya tentang kenapa manusia itu kok butuh bermain. Ada 3 teori yang membahas tentang hal tersebut

  1. Psikoanalisis Theory. Dalam teori ini mengatakan kenapa manusia kok butuh bermain karena bermain itu dijadikan jalan atau media untuk melepaskan emosi-emosi dari dalam diri seseorang. Untuk apa ? untuk mengatasi pengalaman traumatik. Jadi pendek katanya bahwa melakukan suatu permainan itu sebuah katarsis. Ini menarik sekali tentunya. Di dalam pembagian “wilayah ” dalam outbound ( experiantial Learning ) ada satu wilayah yang mungkin jalan dikenal yaitu Teurapetic. Dimana bermain itu bisa “menyembuhkan” seseorang terhadap hal yang membuatnya tidak nyaman. Ibarat sebuah bendungan. Maka dengan melakukan permainan seakan-akan air atau “energi” yang sangat besar itu perlu disalurkan. Kalau tidak maka bisa membuat seseorang “jebol” alias mengalami “sakit” secara psikis. Pastinya ada teknik tertentu didalam setiap melakukan permainan tersebut. Ada assesment diawal terhadap peserta yang akan melakukan hal tersebut. Lalu ada pengamatan selama permainan dan terakhir mengajak peserta untuk ( mau ) menyampaikan “energi” nya agar bisa mudah untuk dilepaskan
  2. Kognitif Theory. Dalam teori ini dikatakan bahwa bermain itu sebaiknya mengikuti perkembangan usia. Sehingga ada level atau tingkatannya. Dalam kegiatan outbound dengan peserta anak pastinya harus dibedakan dengan kalau pesertanya dewasa. Untuk peserta yang masih sekolah beda programnya dengan peserta yang sudah bekerja. Apa yang terjadi kalau disamakan ? pastinya di awal peserta tersebut akan ada semacam penolakan. Misalnya peserta dewasa diminta untuk memainkan permainan yang menurut dia pas nya untuk anak-anak. Peserta tersebut pasti akan enggan atau tidak sepenuh hati melakukan permainan tersebut. Makanya kalau di dalam kegiatan outbound ada sesi brief. Sesi pembuka dimana disini peran fasilitator sangat menentukan agar supaya peserta outbound bisa mengikuti permainan dengan sepenuh hati.
  3. Teori Belajar Sosial. Pada teori ini dikatakan bahwa permainan itu sebagai suatu sarana untuk bisa berinteraksi dengan orang lain. Tentunya kalau permainan ini dilakukan secara langsung atau offline Ya. Banyak sekali temuan dimana seorang peserta outbound yang kesehariannya “tertutup” lalu secara perlahan bisa mulai terbuka ketika mengikuti permainan dalam program outbound. Peserta tersebut seakan baru menemukan “dunia baru” yaitu berinteraksi sosial lebih intens dengan orang lain. Hal ini sangat menarik pastinya. Kenapa ? karena bisa membuatnya lebih terbuka wawasan peserta tersebut dan efek selanjutnya potensi terbaiknya bisa dimaksimalkan dengan bekerja sama dengan orang lain. Pastinya ini butuh program yang tepat. Makanya salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator outbound adalah bisa melihat dan merasakan bagaimana peserta outbound tersebut. Pengamatan tersebut dilakukan secara seksama baik pada saat asessment peserta atau selama peserta tersebut melakukan kegiatan.

Menarik ya . Teori tersebut semoga teman-teman pembaca bisa lebih mendalaminya lagi terutama para fasilitator outbound. Program outbound teurapetic sepertinya bisa mulai “dilirik” lagi karena program ini jarang sekali di”pasarkan” . Hingga hari ini program yang bersifat rekreasional masih mendominasi kegiatan outbound. Atau mungkin juga saatnya mulai mengkombinasikan dua program tersebut. Pastinya butuh banyak membaca lagi. Belajar tentang hal-hal yang terkait dengan hal tersebut. Ya memang begitulah kita harus terus berkembang dan tumbuh.

Semoga artikel ini bermanfaat. Mangga bagi teman-teman yang ingin membagikan artikel ini kepada teman-temannya. Semoga semakin banyak teman-teman yang membaca artikel pendek ini jadi bisa lebih membantu mengembangkan program-program outbound di masa mendatang.

Salam outbound. salam simpEL