4 peristiwa yang mungkin bisa membuatmu “berfikir”

4 peristiwa yang mungkin bisa membuatmu “berfikir”

Sepanjang jalan menuju bogor terlihat seorang ibu sendirian menunggu dagangan berupa 5 buah tisu ukuran sedang. Hanya itu dagangannya hari ini. Berapa keuntungan untuk satu buah tisu ? dan berapa keuntungan 5 buah tisu ? paling tidak ibu itu telah berusaha untuk mencari rejeki. Berapa besar atau kecil keuntungan yang akan didapatkannya mungkin tidak terlalu penting. Baginya ibu itu telah berusaha …….selebihnya semua urusan diserahkan kepada Tuhan.

Lalu setelah itu melihat seorang anak usia sekitar 10 tahun ( belajar )berjalan dengan kedua kaki palsunya sambil tangannya memegang bagian belakang kursi rodanya. Disamping nya seorang ibu menemani dengan sabar dan memberi semangat untuk putranya tersebut. Jangan bertanya berapa jauh atau dekat anak tersebut bisa berjalan. Bagi anak tersebut dan ibu itu yang paling penting adalah terus berusaha untuk berjalan. walaupun dengan kaki palsu dan dengan diseret. Banyak diantara kita yang bisa berjalan bahkan berlari. Tetapi hanya diam di tempat saja. Tidak dipakainya untuk bekerja. Bersilaturahmi dengan sahabatnya. bahkan tidak dipakai untuk pergi ke tempat ibadah.

Menjelang lampu merah di depan ruko, seorang bapak yg tidak muda lagi berdiri dengan berkalungkan sebuah peluit. Menanti mobil yg akan parkir di ruko tersebut yg pagi itu baru satu mobil yg parkir disitu. Ketika lampu merah. Mungkin bapak itu tidak pernah terbersit punya cita-cita untuk menjadi seorang tukang parkir. Tetapi keadaan yang membuatnya melakukan pekerjaan itu. Di awal mungkin ada keengganan. tetapi seiring berjalannya waktu dia merasa lebih baik. karena selain bisa mendapatkan pendapatan juga bisa bertemu dengan banyak orang. Bisa menyapa sambil sesekali berbicara singkat. Tersenyum dan mendoakan agar perjalanan oang yang memiliki mobil itu lancar dan selamat sampai tujuan.

Seorang pemuda meloncat loncat menawarkan dagangannya berupa tisu. Kenapa dia meloncat loncat? Ya karena dia hanya punya satu kaki dan tidak membawa alat bantu berjalan ( krek ). Berdiri dengan satu kaki untuk sekian waktu lalu berjalan dengan melompat pastilah tidak mudah. Selain butuh keahlian juga butuh kesungguhan.. Tetapi pemuda itu tidak punya pilihan karena kakinya hanya satu . Dia bisa saja berdiam diri dan minta belas kasihan. Tetapi dia tidak melakukannya. Dia pergi ke perempatan lampu merah. Membawa tisu dan setiap lam;u merah dia “melompat-lompat” sambil tersenyum menawarkan tisunya.

Ada yg tetap berjuang tanpa meminta-minta. Tidak banyak yg dia dapatkan tetapi cukuplah dgn berusaha dia mencoba bertahan hidup sambil tetap berdoa semoga Tuhan mengabulkan doa sedehananya hari ini. Mencukupkan rejeki untuk bisa menyambung hari dan melanjutkan hidup.

Kadang “lebih” yg kita rasakan masih terasa kurang. Dan membuat kita untuk terus “meminta-minta” dalam setiap doa….. seringkali ujiannya bukan pada kita kurang apa tetapi kita meminta yg terlalu banyak pada Tuhan kita. Semoga kita selalu bersyukur dan bisa terus diberikan kekuatan untuk berbagi dengan sesama. Amiiin. Alhamdulillah

Salam outbound. Salam simpEL