Outbound dan Agama

Outbound dan Agama

Seorang teman lama datang. Ada sedkit yang berubah dalam cara berpakaiannya. Lebih “outbound look”. Tidak seperti biasanya. Gaya bicaranya masih sama. Cepat dan cerdas. Kadang sesekali mencernanya harus sedikit sabar. Energinya masih tetap sama. Sangat antusias. Lalu dengan mengucapkan satu kalimat. Saya langsung dibuatnya benggong. ” Saya sekarang agnostik “. Dengan kesungguhan yang tiada tara.

Apa itu agnostik ? Secara terminologi agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui. Agnostik lawan kata dari gnostik yang artinya berpendapat bahwa Tuhan dapat diketahui sebagai ada atau tidak. Sebelumnya teman lama saya ini menganut satu agama. Dari kecil belajar dan menekuni satu agama. Kemudian hari itu dia mengatakan “saya sekarang agnostik”.

Kenapa itu bisa terjadi ? banyak pendapat pribadi tentunya. Bisa dari lingkungan. Pengalaman yang “luar biasa” ataupun karena sebab lain. Apapun itu sepertinya bisa terkait dengan pemahaman dan berkembangnya cara berfikir. Dalam lingkugan dunia yang seperti saat ini mungkin bisa saja memberikan pengaruh akan hal tersebut. Bagi seseorang. Termasuk bagi teman lama saya ini.

Dalam agama iman adalah sebagai fondasinya. Tetapi kalau hanya iman saja maka akan sangat berbahaya. Iman itu bisa membuat orang jadi tertutup dan tidak berkembang bila tanpa didasari oleh ilmu. Ilmu dalam hal ini yang saya maksud adalah “open mind”. Selalu terbuka untuk “up date “informasi sehingga hal itu bisa lebih memperkuat keimanan seseorang.

Jadi iman dan ilmu itu bergandengan dan saling memberikan pengaruh untuk memperkuat. Dengan dua hal itu maka dalam beragama orang “mungkin” diawalnya bisa hanya ikut-ikutan. Ikut-ikutan orang tua atau bisa jadi ikut-ikutan teman atau pasangan. Tetapi kalau hal itu dijaga dan di “up date” maka orang akan semakin percaya dan yakin alasannya bergeser untuk tidak “ikut-ikutan”. Dengan memasuki fase itu maka dia kalaupun melakukan kegiatan “dakwah” akan lebih cerdas. Akan lebih bisa diterima dan akan bisa membuat seseorang menjadi lebih paham dalam beragama.

Agama mengajak ke arah kebaikan. Baik bagi dirinya sendiri, menjadi lebih tenang. Juga bagi orang lain. Hidup dalam kebersamaan. saling menghormati dan saling bekerja sama. Lalu kenapa ada orang yang akhirnya “meninggalkan” agamanya ? salah satunya ketika ada orang yang “berdakwa” melakukannya dengan tanpa keindahan. Serba memaksa dan mengancam. Biasanya yang paling ampuh adalah berbicara tentang sorga dan neraka secara “berlebih-lebihan”.

Mungkin bagi orang yang tidak meng”up date” informasi bisa jadi akan menerima begitu saja. Apapun yang dikatakan oleh “pemuka agama” akan diterima begitu saja. Tanpa bertanya. walaupun hal itu dirasakan membuat dirinya menjadi “risau”. Ruang diskusi tertutup. Semua argumen dibatalkan sebelum dibicarakan. Tetapi bagi orang yang terus berkembang pemikirannya maka hal itu butuh penjelasan. Dan setiap kebutuhan akan penjelasan tersebut lebih baik diterima terlebih dahulu. Lalu duduk dengan santai. sambil ngopi mungkin. Lalu dijelaskan sesuai dengan “karakter” pemikiran dari orang tersebut.

Pemahaman yang nantinya di dapatkan apabila ruang diskusi diberikan maka akan membuat lebih jelas dan terang benderang. Akibatnya pemahaman akan menjadi lebih menguat. dan insya allah keimanan seseorang tersebut akan menjadi lebih “tangguh”. Memaksakan sebuah pendapat akan membuat seseorang tidak setuju. Baik dengan cara dikatakan ataupun dengan hanya diam saja.

Artikel ini mungkin agak sedikit berbeda dengan artike sebelum-sebelumnya. Tetapi ini juga masih ada kaitanya dengan “outbound”. Pengalaman teman lama saya tersebut saya jadikan bahan renungan. Lalu saya coba “olah” dan akhirnya saya membuat sebuah pendapat tentang hal tersebut. Outbound adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang. Outbound sejatinya bukan hanya sebuah pemikiran yang konstan. Dia tumbuh dan berkembang. Berfikir untuk melihat sesuatu dengan lebih tenang. Lalu merenungkannya. setelah itu bisa menemukan sesuatu yang “baru” yang lebih bisa mendatangkan manfaat dan kebaikan.

Outbound itu ilmu mengajak seseorang untuk bisa berfikir dengan “indah”. Bukan sebatas referensi dari buku-buku. Karena referensi terbaik dari outbound adalah dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain yang “disambut” dengan pikiran terbuka. Itu menurut saya. Anda bisa saja tidak sependapat. Bila Anda punya argumen maka itu saya terima dengan suka cita. Tetapi ketika Anda tidak setuju tanpa memberikan argumen itu pun tetap saya terima . Tetapi setelah itu saya lupakan begitu saja.

Semoga artikel ini bermanfaat. semoga kita terus bisa berkembang ke arah yang lebih baik dan bisa memberikan manfaat untuk banyak orang.

Salam outbound. Salam simpEL