Mencari yg terbaik dan sesuai kata hati

Mencari yg terbaik dan sesuai kata hati

“gaji saya sudah mencapai dua digit pak, tetapi saya mengundurkan diri dari perusahaan” kata seorang driver taxi yang membawa saya ke bandara Halim Perdanakusuma siang itu. Selama perjalanan saya berbagi cerita seru dengan driver taxi yang ramah ini.

Awalnya dia tanya tentang tujuan dan dalam rangka apa kepada saya lalu aku baru tahu ternyata dia baru dua hari menjadi driver taxi burung besi biru. Dia sebetulnya juga mengelola bisnis salah satu produk frozen food yang lumayan berkembang. Tetapi akhir – akhir ini terpaksa dia merumahkan hampir separo dari jumlah karyawannya. Dan disela-sela mengelola bisnisnya karena waktu agak longgar maka dia “nyambi” sebagai driver taxi.

Saya menceritakan rencana saya mau memberikan training ke Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Lalu saya juga menceritakan profesi lain saya sebagi seorang penulis. Mendengar saya juga seorang penulis maka pembicaraan menjadi semakin seru. Sampai akhirnya dia bercerita tentang pengalaman kerjanya. Yang menarik ketika dia pernah bekerja di sebuah perusahaan minyak yang dimiliki oleh salah satu negara di Asia.

Karirnya semakin hari semakin bagus. Hingga dia bisa mendapatkan gaji sekitar dua digit. Cukup besar gaji tersebut menurut ukuran saat itu. Tetapi semakin hari-semakin dia rasakan pekerjaannya itu berlawanan dengan kata hatinya. Bukan pekerjaan utamanya tetapi pekerjaan tembahan yang diberikan perusahaan kepadanya.

“pekerjaan” tambahan tersebut sebetulnya juga menyenangkan dan tidak menguras tenaga. Pekerjaan hanya untuk menemani tamu-tamu perusahaan yang nerasal dari negeri asal perusahaan tersebut. Disitulah semakin hari semakin terbebani dia. Hingga pada suatu hari dia sakit dan harus masuk rumah sakit. Waktu untuk menyembuhkan nya pun sekitar 6 bulan.

Selama masa sakit tersebut hatinya seakan berontak. Tidak bisa menerima pekerjaan tambahan tersebut. Sebetulnya kalau untuk pekerjaan utamanya dia sangat nyaman. Dia kebetulan orang “lapangan” jadi sering bepergian menawarkan produk dari perusahaanya. Dan prestasinya terhitung bagus. Tetapi pekerjaan tambahannya tersebut yang akhirnya membuat dia seakan berada di persimpangan jalan. Dia harus memilih apakah lanjut atau cukup sampai disini saja.

Setelah sembuh dari sakitnya dia lalu mengajukan surat pengunduran diri. Lalu dia bekerja sama dengan temannya untuk buka bisnis frozen food. Cukup bagus dan berkembang hingga pandemi tiba. Semakin hari semakin berat beban perusahaan hingga dia harus merumahkan setengah dari jumlah karyawannya saat itu.

Kita kadang dihadapkan situasi yang seperti itu. Kita seperti “ditaruh” dipersimpangan sebuah jalan. lalu kita harus memilihnya. Bimbang dan ragu kadang seringkali menyertainya. Pilihan antara kekayaan materi dengan kata hati kadang bertempur habis-habisan di situ. Ada yang memilih kekayaan dan akhirnya bertambahnya luar biasa tetapi hatinya semakin hari menjadi semakin kosong. Ada juga yang memilih kata hati tetapi dengan uang ditangan yang semakin hari semakin berkurang.

Tetapi seringkali kalau itu memang benar sesuai dengan kata hati paling tidak akan menjadi nyaman. Memang harus bekerja lebih keras untuk kembali memenuhi kebutuhan. Ada yang kurang berhasil tetapi banyak yang berhasil. Bekerja adalah bukan sekedar menghabiskan waktu atau membunuh waktu. Tetapi bekerja adalah dalam rangka mengisi waktu dan mengisi hati. Rejeki harus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Dan tentumya dengan tetap di jalan Tuhan. Insya allah dengan istiqomah semua akan bisa didapatkan dan hati kita menjadi semakin nyaman.

Semoga artikel pendek tentang perjalanan saya menuju bandara kemaren bisa mermanfaat.

Salam outbound. Salam simpEL