Kelok 44 kelok yang tiada tara

Kelok 44 kelok yang tiada tara

Saya kemaren baru melewatinya kelok 44 ini. Baru pertama kali. Sayangnya sampai di kelok tersebut sore menjelang senja. Melintas kelok ini bersama teman-teman dari Nagari Salareh aia yang mungkin sudah terbiasa. Di dalam bus teman-teman tetap santai dan biasa-biasa saja. Sementara saya tidak : ) rasanya agak gimana gitu.

Kelok 44 merupakan daerah perbukitan yang berada di atas Danau Maninjau. Dinamakannya sebagai Kelok 44 karena jalan ini memiliki tikungan atau kelok berjumlah 44 belokan. Setiap keloknya yang patah diberi penomoran berurutan. Melewati kelok ini memang menjadi salah satau “mimpi” saya. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga.

Selama melewati kelok ini banyak bertemu dengan para pengemudi yang membawa ikan dari Danau maninjau. Mereka katanya harus berpacu dengan waktu. Supaya ikan yang dibawanya tetap hidup dan masih enak untuk dikonsumsi. Bisa dibayangkan mereka melewati kelok yang tidak mudah itu dengan kecepatan yang sudah terukur. Bagi orang awam rasanya tidak mudah bisa melewati kelok 44 tersebut. Tetapi bagi para pengemudi tersebut sepertinya menjadi hal biasa saja.

Ada hal yang menarik ketika melewati kelok 44 tersebut. Melewati jalan berkelok tidaklah sama dengan melewati jalan yang lurus. Selain ketrampilan juga butuh kehati-hatian. Bahkan ketika berpapasan dengan kendaraan lain ada saatnya harus berhenti sesaat terlebih dahulu. Memberikan kesempatan kepada kendaraan lain untuk melintas di awal baru kemudian kita yang berjalan. Hal itu terjadi kalau kita ada di atas. Memberikan kendaraan yang dari bawah untuk lewat terlebih dahulu.

Ketika dalam hiduip kita harus melewati banyak tikungan atau kelokan maka sepertinya kita harus bisa bersikap seperti itu. Ketrampilan harus kita miliki. Hati-hati tentunya harus lebih. Jangan gegabah dan sembrono. Karena urusannya bisa kemungkinan terjadi kecelakaan lebih besar. Selain itu harus lebih sabar. Bahkan ketika bertemu dengan orang lain yang posisinya beda dengan kita. Karena terkadang mempersilakan orang lain untuk berjalan terlebih dahulu membuat kita bisa selamat.

Tidak semua tindakan untuk maju ke depan apalagi memaksakan diri untuk selalu didepan itu baik. Terkadang bisa berbahaya dan membahayakan orang lain. Hidup memang seperti itu rasanya. Ada saatnya kita sedikit mengalah. Ada saatnya kita harus maju ke depan. Kita harus tahu kapan waktunya. Jangan ngegge mongso kata pepatah jawa. Jangan memkasakan sebuah musim kalau belum saatnya tiba

Melewati kelok 44 di siang hari konon katanya sangat indah pemandangannya. Bisa melihat Danau Maninjau yang sangat eksostik. Ya, melewati “kelokan” kehidupan” ternyata masih ada keindahan. Keindahan itu ada dimana-mana bahkan di dijalan yang sangat tidak nyaman seperti kelokan tersebut.

Melewati kelok 44 sepertinya mengingatkan banyak hal. Selain tantangan yang luar biasa. Ketrampilan yang paripurna dalam mengendarai “kendaraan”. Kesabaran yang dijaga dengan baik. Juga keindahan yang bisa dinikmati. Seperti hidup di masa pandemi ini. Seperti kita sedang melewati banyak “kelokan”. Yakinlah kita bisa melewatinya. Dan jangan lupa selama pandemi pasti ada “keindahan” di dalamnya. Carilah, dan dengan cara seperti itu pasti kita bisa menemukannya.

Semoga artikel pendek tentang kelok 44 ini bisa bermanfaat dan bisa menginspirasi teman-teman semua.

Salam outbound. Salam simpEL.